Pernah nggak sih ngerasa, dulu kita nganggep baca buku tuh kegiatan “kuno” yang cuma dilakuin anak IPA atau orang tua. Tapi coba liat sekarang—tiba-tiba feed TikTok isinya orang nangis habis baca novel, buku self-help jadi bahan obrolan di kafe, bahkan ada yang rela antri berjam-jam di pameran buku. Juni 2026 ini, dunia literasi lagi ngalamin kebangkitan yang nggak terduga. Dan yang bikin penasaran: ini bukan karena buku-buku baru yang “dipaksakan” promosi, tapi karena kita sendiri—generasi yang katanya “susah baca”—tiba-tiba haus sama cerita.
Gue penasaran banget, kenapa sih buku-buku kayak Laut Bercerita atau The Let Them Theory bisa seviral ini? Apa karena kita lagi rindu sama makna di balik scroll? Atau karena buku mulai jadi “pelarian” dari kebisingan digital? Yuk, kita bedah tujuh buku yang lagi bikin heboh dan gimana mekanisme di balik kebangkitan membaca ini.
BookTok: Mesin Viral yang Bikin Buku Jadi Primadona
Sebelum kita bahas bukunya satu-satu, kita ngomongin dulu “mesin” di balik viralitas ini: BookTok. Komunitas #BookTok di TikTok udah tembus lebih dari 74 juta postingan dan jadi etalase literatur paling kuat di planet ini . Di Indonesia pun, fenomena ini sama gilanya. Anggota MPR Atalia Praratya bahkan nyebut Gen Z sebagai generasi paling aktif membaca berdasarkan survei Jakpat—26% Gen Z aktif baca, lebih tinggi dari Milenial (20%) dan Gen X (18%) .
Yang menarik, buku-buku yang viral bukan cuma yang baru terbit. Banyak yang rilis tahun lalu bahkan puluhan tahun lalu tiba-tiba naik daun karena diangkat di TikTok atau Instagram . Ini menunjukkan satu hal: buku yang viral bukan soal “kapan terbit”, tapi soal “kapan relevan” . Dan di 2026, relevansi itu datang dari tema yang nyambung sama kegelisahan kita.
1. Laut Bercerita – Leila S. Chudori: Sejarah yang Nggak Pernah Mati
Buku ini sebenernya udah terbit tahun 2017. Tapi di 2026, Laut Bercerita balik lagi dengan kekuatan yang lebih gede. Kenapa? Karena film adaptasinya yang dibintangi Reza Rahadian, Dian Sastro, dan Eva Celia siap tayang tahun ini . Dan yang bikin menarik: pembaca terbanyak buku ini justru dari Generasi Z .
Reza Rahadian sendiri optimis film ini bisa diterima Gen Z karena “riset datanya, pembeli bukunya Mbak Leila ini kan sudah masuk cetakan ke-116. Dan itu banyak banget… pembelinya juga ternyata datang dari generasi Z” . Novel ini mengisahkan Biru Laut, seorang mahasiswa yang diculik karena aktivitas politiknya menjelang 1998—cerita tentang kehilangan, persahabatan, dan keluarga yang ditinggalkan .
Resep viralnya: buku ini jadi viral karena konteks—film yang akan tayang jadi pemicu, tapi yang bikin bertahan adalah relevansi temanya. Gen Z yang tumbuh di era reformasi penasaran sama sejarah yang nggak diajarkan di sekolah. Ini bukan cuma baca buku, ini ritual mengingat yang dibungkus dalam bentuk konten di media sosial.
2. Broken Strings – Aurelie Moeremans: Memoar yang Dibagikan Gratis
Buku ini beda banget. Broken Strings bukan novel fiksi, tapi memoar pribadi Aurelie Moeremans tentang pengalaman grooming dan manipulasi emosional . Yang bikin viral: Aurelie merilis buku ini secara gratis melalui tautan resmi—keputusan yang diambil agar pesan buku bisa diakses seluas mungkin, terutama oleh pembaca muda dan penyintas yang mungkin memiliki keterbatasan akses .
Respons publik? Beragam tapi sangat aktif. Banyak pembaca yang merasa “terwakili” —pengalaman mereka selama ini nggak pernah dibahas, akhirnya ada yang berani cerita. Tapi ada juga diskusi kritis soal batas memoar, tafsir publik, dan risiko pembacaan memoar .
Resep viralnya: autentisitas dan akses gratis. Buku ini viral bukan karena promosi gede-gedean, tapi karena isinya nyambung sama pengalaman kolektif yang selama ini dianggap tabu. Ini buku yang dibaca bukan buat hiburan, tapi buat validasi dan pemahaman.
3. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati – Brian Khrisna: Mental Health yang Ngena
Novel ini adalah salah satu fenomena paling gila di 2026. Ceritanya tentang Ale, pria 37 tahun dengan depresi akut yang ingin mengakhiri hidupnya—tapi pengen makan mie ayam dulu . Buku ini udah cetak ulang ke-94 dan jadi nomor satu terpopuler di Gramedia .
Yang bikin ini lebih keren: novel ini resmi diterjemahkan ke bahasa Jepang dan terbit 20 Januari 2026. Penerjemahnya, Nishino Keiko, mengaku pembaca Jepang mengapresiasi buku ini karena “warga Jepang yang mengalami depresi dan konsul ke psikiater terbilang banyak” . Bahkan adiknya sendiri mengalami depresi, dan dia berharap buku ini bisa membantu lebih banyak pasien mental health .
Penulis Brian Khrisna ngaku terkejut: “Jujur, aku terkejut sekali ya. Belum pernah sampai di titik ini (diterjemahkan ke bahasa Jepang). Apalagi semua orang membaca buku ini dan semakin besar lagi jangkauannya, akan semakin besar pula pro dan kontranya” .
Resep viralnya: isu mental health yang lagi hangat dibicarakan, ditambah kemasan cerita yang sederhana tapi menyentuh. Ini bukan buku teori psikologi, tapi cerita yang relatable—kita semua pernah merasa sendirian dan pengen “berhenti” sejenak. Buku ini ngasih izin buat merasa sedih tanpa dihakimi.
4. The Let Them Theory – Mel Robbins: Psikologi Praktis yang Viral
Buku self-help ini mungkin yang paling fenomenal di 2026. Ditulis oleh pembawa podcast Mel Robbins, buku ini udah laku 8 juta kopi dalam 11 bulan dan on track jadi buku non-fiksi terlaris sepanjang masa . Konsepnya simpel: “Let Them” —biarkan orang lain menjadi diri mereka sendiri, jangan habiskan energi buat mengatur mereka. Lalu, “Let Me” —fokus pada apa yang bisa kamu kendalikan, yaitu dirimu sendiri .
Dr. Zena Burgess, CEO Australian Psychological Society, menjelaskan: “The Let Them Theory is effectively a way that people may remind themselves they can only control how they react to a situation, not the situation itself. It taps into a powerful desire for mental peace and encourages people to focus on their own wellbeing” .
Tapi ada kritik juga: psikolog lain memperingatkan bahwa teori ini bisa berubah menjadi ketidakpedulian atau penghindaran tanggung jawab jika diterapkan tanpa konteks . Dalam hubungan dekat, “let them” bisa jadi alasan buat menghindari percakapan sulit .
Resep viralnya: formula yang sederhana dan gampang diingat—cocok banget buat konten TikTok 15 detik. Plus, ini buku yang ngeliatin kegelisahan kita: kita capek ngatur orang lain, capek dipusingin sama ekspektasi sosial, dan butuh cara sederhana buat “lepas”.
5. Novel Romantis dan Romantasy: Pelarian yang Manis
Nggak cuma buku berat, tren 2026 juga diisi sama genre yang lebih “ringan”. Di Italia, data menunjukkan Gen Z paling suka Romance dan Romantasy—cerita cinta dengan elemen fantasi atau erotis yang sering lahir dari platform kayak Wattpad . Penulis kayak Felicia Kingsley, Erin Doom, dan Rebecca Yarros (saga Fourth Wing) jadi fenomena global .
Yang menarik: buku fisik tetap jadi favorit dibanding e-book. Gen Z menghargai estetika buku fisik—sampul yang cantik, edisi khusus, dan bisa dikoleksi . Ini bukan cuma baca, ini gaya hidup dan identitas.
6. Buku Filsafat dan Sejarah: Kebangkitan “Berat”
Di sisi lain, ada kebangkitan buku “berat” yang nggak terduga. Laut Bercerita yang sarat sejarah, buku filsafat kayak Dunia Sophie, dan karya-karya yang sebelumnya dianggap “elitis” kini banyak dicari anak muda . Buku ini viral karena diskusi di media sosial—orang nggak cuma baca, tapi juga ngobrolin, nge-debat, dan nge-share kutipan .
Fenomena ini menunjukkan satu hal: Gen Z bukan anti-intelektual. Mereka cuma butuh pintu masuk yang relatable—entah itu film adaptasi, konten TikTok, atau diskusi di komunitas.
7. Buku Pengembangan Diri dan Literasi Digital
Terakhir, ada buku-buku tentang AI, finansial, dan keterampilan praktis yang lagi laris . Di 2026, orang nggak cuma baca buat hiburan—mereka baca buat belajar dan bertahan. Panduan ChatGPT, machine learning, dan investasi jadi incaran . Ini yang disebut “lector-hacedor” —pembaca yang membeli buku buat mengubah sesuatu dalam hidupnya .
3 Kesalahan Saat Ikut Tren Baca (Biar Kamu Nggak Cuma Ikut-ikutan)
- Baca Cuma Buat Konten, Bukan Buat Makna: Banyak yang beli buku cuma buat “OOTD” atau “shelfie” tanpa beneran dibaca. Ini sama aja kayak beli buku pajangan. Buku itu buat dibaca, bukan difoto.
- Cuma Ikut yang Viral, Nggak Eksplorasi Minat Sendiri: Jangan beli The Let Them Theory cuma karena lagi rame, padahal kamu lebih suka fiksi. Viral bukan jaminan cocok.
- Baca Cepat, Nggak Dihayati: Tantangan “baca 100 buku setahun” kadang bikin kita kejar jumlah, bukan kualitas. Lebih baik baca 5 buku yang beneran ngena daripada 50 buku yang cuma dilewatin.
Tips Praktis: Mulai Membaca Lagi di 2026
- Mulai dari yang Kamu Suka: Nggak usah paksain baca buku berat kalau kamu lebih suka novel ringan. Kebiasaan baca dibangun dari rasa suka, bukan dari beban.
- Manfaatin BookTok buat Cari Rekomendasi: Tapi jangan cuma ikut-ikutan—cari konten kreator yang seleranya mirip sama kamu .
- Baca Fisik atau Digital, Sama Aja: Yang penting isinya, bukan formatnya. Gen Z justru suka buku fisik karena “estetika”, tapi e-book juga oke .
- Gabung Komunitas Baca: Buku lebih seru kalau didiskusikan bareng. Cari komunitas online atau offline—di sana kamu dapet rekomendasi, motivasi, dan teman baru .
Kesimpulan: Buku Adalah Pelarian yang Paling Sehat
Jadi, apa yang sebenernya terjadi di balik kebangkitan membaca 2026? Ini bukan cuma soal buku yang viral atau tren BookTok. Ini tentang kita yang lagi nyari pelarian. Di tengah dunia digital yang bising, notifikasi yang nggak berhenti, dan algoritma yang terus teriak minta perhatian—buku ngasih kita ruang sunyi. Ruang buat berpikir, buat nangis, buat ngerti, dan buat ngerasa nggak sendirian.
Gen Z disebut sebagai generasi paling aktif membaca . Bukan karena kita lebih pinter, tapi karena kita lebih haus. Haus akan makna, akan koneksi, akan sesuatu yang nggak bisa dikasih sama scroll. Buku, entah itu memoar tentang trauma, novel tentang depresi, atau teori psikologi sederhana, adalah jawaban atas kehausan itu.
Dan yang paling penting: membaca bukan kegiatan kuno. Ini adalah perlawanan—perlawanan terhadap kecepatan, terhadap kebisingan, terhadap dunia yang terus minta perhatian kita. Jadi, lain kali kamu buka buku dan baca satu halaman penuh, ingat: kamu nggak cuma baca. Kamu sedang melambat. Dan di 2026, itu adalah tindakan paling berani.
