Gue baru aja selesai baca buku. Bukan ebook. Bukan di Kindle. Bukan di HP. Tapi buku fisik. Kertas. Halaman yang bisa dibalik. Bau kertas. Suara lembaran yang dibuka. Gue baca pelan. Satu halaman demi satu halaman. Nggak ada notifikasi. Nggak ada tab yang terbuka. Nggak ada scrolling. Hanya buku. Hanya kata. Hanya gue. Dulu, gue baca di HP. Dulu, gue baca cepat. Dulu, gue buka banyak tab. Dulu, gue scroll, scroll, scroll. Dulu, gue nggak pernah selesai. Dulu, gue lupa apa yang gue baca. Dulu, gue merasa otak gue penuh, tapi kosong. Sekarang? Sekarang gue milih buku fisik. Gue baca pelan. Gue baca dalam. Gue baca sampai selesai. Gue ngingat. Gue merenung. Gue mencerna. Gue merasa otak gue tenang. Gue merasa fokus. Gue merasa hidup. Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin kuat. Slow reading. Generasi muda—18-35 tahun—kembali membaca buku fisik. Bukan karena mereka anti-teknologi. Bukan karena mereka nggak bisa baca digital. Tapi karena mereka lelah. Lelah dengan layar. Lelah dengan notifikasi. Lelah dengan scrolling. Lelah dengan digital fatigue. Lelah dengan otak yang terus dipaksa bergerak cepat. Mereka butuh terapi. Terapi fokus. Terapi yang memaksa mereka melambat. Terapi yang memaksa mereka hadir. Terapi yang memaksa mereka membaca satu halaman demi satu halaman. Buku fisik adalah jawaban. Slow Reading: Ketika Generasi Muda Kembali ke Kertas Gue ngobrol sama tiga orang yang memilih buku fisik. Cerita mereka: lelah dengan digital, rindu pada fokus. 1. Dina, 26 tahun, yang dulu baca 50 …








