Fenomena 'BookTok' 2026: Antara Romantasy yang Mendominasi Chart, Adaptasi Layar yang Membeludak, atau Generasi yang Membaca Karena FOMO Bukan Karena Literasi?
Uncategorized

Fenomena ‘BookTok’ 2026: Antara Romantasy yang Mendominasi Chart, Adaptasi Layar yang Membeludak, atau Generasi yang Membaca Karena FOMO Bukan Karena Literasi?

Jam 10 malem. Lo buka TikTok, niatnya cuma 15 menit. Eh, nemu video orang nangis sambil megang buku. Judulnya: “if you don’t cry at the end of this book, you have no soul.” Lo liat komentar: ribuan orang pada nangis bareng. Lo langsung cek Shopee, cari buku itu. Checkout. Besoknya lo ikut nangis, bikin video, upload, dapet 10 ribu likes.

Minggu depannya, lo liat trailer film adaptasi dari buku yang sama. Cast-nya keren, sinematografinya gila. Lo nonton, puas. Besoknya di kantor, lo ngobrol sama temen: “Udah nonton film itu belom? Buku nya lebih bagus sih.”

Lo sadar nggak? Dalam seminggu, lo udah baca buku, nonton film, dan jadi bagian dari percakapan global. Tanpa lo sadari, lo udah masuk dalam mesin raksasa yang disebut BookTok.

Selamat datang di BookTok 2026.

Fenomena ini bukan sekadar tren membaca biasa. Ini adalah pergeseran budaya yang mengubah cara generasi muda menemukan, mengonsumsi, dan berinteraksi dengan buku. Hashtag #BookTok di TikTok kini memiliki lebih dari 74 juta postingan . Angka itu naik gila-gilaan dari tahun-tahun sebelumnya. Dan dampaknya? Bukan cuma ke penjualan buku, tapi juga ke industri film, penerbitan, bahkan cara kita memaknai aktivitas membaca itu sendiri.

Apa Itu BookTok dan Seberapa Besarnya?

BookTok adalah komunitas di TikTok di para pembaca—disebut BookTokers—membagikan rekomendasi buku, reaksi emosional setelah membaca, dan konten kreatif seputar literatur . Tapi ini bukan sekadar klub buku virtual. Ini adalah kekuatan pasar yang bisa mengangkat buku dari yang nggak dikenal jadi bestseller dalam semalam.

Menurut BBC Bitesize, #BookTok sekarang punya lebih dari 74 juta postingan, dengan cabang-cabang khusus kayak #RomanceBookTok (150 ribu postingan) dan #YABooks (hampir setengah juta postingan) . Di Instagram, #Bookstagram bahkan punya 124 juta postingan .

Tapi yang paling mencengangkan adalah dampak ekonominya. Ketika serial Heated Rivalry diadaptasi jadi TV show di HBO Max pada November 2025, platform peminjaman digital Libby mencatat kenaikan 744% dalam peminjaman seluruh seri Game Changer, dan kenaikan 698% untuk ebook dan audiobook Heated Rivalry . Angka ini bukan main-main.

Di Italia, BookTok bahkan mengubah tata letak toko buku. Feltrinelli Book Bubble di Milan, yang dibuka Desember lalu, nggak lagi mengatur buku berdasarkan genre atau abjad. Mereka pakai kategori emosional: “lacrimuccia” (air mata kecil), “singhiozzo” (tersedu-sedu), dan “devasto” (menghancurkan) . Ada juga kategori “quanto tempo hai?” (berapa banyak waktu yang lo punya?) dengan sub-seksi “untuk satu malam”, “untuk akhir pekan”, atau “untuk seminggu” . Ini bukti bahwa logika BookTok—yang mengutamakan emosi dan pengalaman—sekarang memengaruhi cara fisik kita berinteraksi dengan buku.

Romantasy: Genre yang Mendominasi 2026

Kalo lo buka BookTok sekarang, yang paling dominan adalah romantasy—gabungan romance dan fantasy . Ini bukan kebetulan.

Menurut The Mirror, Rebecca Yarros dengan seri Empyrean-nya (Fourth WingIron FlameOnyx Storm) menduduki tiga posisi teratas di tangga buku Hardback Fiction Inggris . Tiga buku dari satu penulis di tiga posisi teratas. Itu gila.

Kenapa romantasy begitu besar?

Pertama, genre ini tumbuh bersama generasi pembaca yang dulu remaja dengan Twilight dan The Hunger Games, tapi sekarang ingin cerita yang lebih matang. Mereka pengen dunia fantasi dengan stakes tinggi, tapi juga kompleksitas emosional dan romansa dewasa .

Kedua, karakter utamanya dewasa. Mereka nggak cuma berurusan dengan naga dan sihir, tapi juga trauma pribadi, penyakit kronis (seperti yang ada dalam karya Yarros sendiri), dan dilema politik yang rumit . Ini bikin ceritanya terasa relevan meskipun settingnya fantasi.

Ketiga, dan ini yang paling penting: buku ini cantik. Penerbit bikin edisi spesial dengan “stencilled edges”—tepi buku yang diwarnai atau diilustrasi—dan hidden cover art. Di Kosta Rika, eksekutif Librería Internacional bilang: “El lector se motiva más a leer cuando tiene en sus manos una edición especial. Ya no es un libro ‘normal’, es un tesoro personal” (Pembaca lebih termotivasi membaca ketika punya edisi khusus. Itu bukan lagi buku ‘biasa’, itu harta pribadi) .

Buku-buku ini jadi status symbol dan barang dekorasi rumah. Orang beli multiple editions dari judul yang sama. Mereka dipajang, difoto, dijadikan konten. Ini yang bikin industri penerbitan senang sekaligus agak bingung.

Dari BookTok ke Layar Lebar

Dampak BookTok nggak berhenti di rak buku. Hollywood sekarang rajin banget mengadaptasi novel-novel viral.

Tatler Asia mendata setidaknya 12 adaptasi besar dari buku-buku populer BookTok yang tayang atau dalam produksi 2026 . Beberapa yang paling dinanti:

  • Bridgerton season 4 (Januari 2026): Diadaptasi dari An Offer from a Gentleman, fokus pada kisah Benedict Bridgerton .
  • Wuthering Heights (Februari 2026): Adaptasi gothic romance karya Emerald Fennell dengan Margot Robbie dan Jacob Elordi. Sudah ramai diperdebatkan di BookTok .
  • People We Meet on Vacation (Januari 2026): Adaptasi pertama dari novel Emily Henry, dengan Tom Blyth dan Emily Bader .
  • The Housemaid (Desember 2025): Thriller psikologis Freida McFadden dengan Sydney Sweeney dan Amanda Seyfried .
  • Verity (Oktober 2026): Colleen Hoover, mungkin novel paling kontroversial di BookTok, diadaptasi dengan cast Anne Hathaway dan Dakota Johnson .
  • The Love Hypothesis (TBA 2026): Ali Hazelwood, dengan Lili Reinhart dan Tom Bateman .

Fenomena adaptasi ini menciptakan feedback loop yang kuat. Orang nonton film, lalu baca bukunya. Atau sebaliknya. Ketika Heated Rivalry tayang, peminjaman ebook-nya naik 698% . Ini siklus yang saling menguntungkan.

Yang menarik, beberapa adaptasi justru dari karya klasik. Wuthering Heights jadi trending di BookTok setelah rilis trailernya . Netflix juga punya adaptasi baru Pride and Prejudice dengan Emma Corrin sebagai Elizabeth Bennet . Jadi, BookTok nggak cuma mengangkat penulis baru, tapi juga menghidupkan kembali sastra klasik.

Antara Literasi dan FOMO

Tapi di balik semua euforia ini, ada pertanyaan yang nggak nyaman: apakah kita baca karena suka, atau karena takut ketinggalan?

Gramedia dalam analisisnya menyebutkan: “Tren buku yang bergerak cepat juga berpotensi mendorong keputusan membaca yang didasari rasa penasaran sesaat atau fear of missing out (FOMO)” .

Ini masalah serius. Di Yoursay.id, sebuah kolom mengupas bagaimana FOMO menggerus budaya literasi di kalangan pelajar. “FOMO pada dasarnya adalah perasaan cemas sosial yang membuat seseorang merasa terpaksa ikut serta dalam setiap hal yang sedang tren atau viral agar tidak merasa tertinggal” .

Dampaknya ke literasi?

  • Waktu baca berkurang karena lebih banyak dihabiskan scrolling
  • Kemampuan membaca dalam menurun karena terbiasa dengan konten cepat
  • Pilihan bacaan ditentukan algoritma, bukan minat pribadi

Di NU Jepara, bahkan ada kajian Ramadan tentang “Ramadan di Bawah Bayang-Bayang Algoritma” yang membahas FOMO versus kekhusyukan ibadah. “FOMO memicu gangguan spiritual yang cukup tajam bagi Gen Z… waktu yang seharusnya sangat berharga baik untuk tadarrus al Qur’an, justru habis hanya untuk melihat kehidupan orang lain” .

Kalo untuk ibadah aja kita susah fokus gara-gara FOMO, apalagi untuk membaca?

Tapi jangan salah paham. BookTok juga punya dampak positif yang signifikan.

Pertama, meningkatkan minat baca. Banyak pengaku mulai membaca lagi karena terinspirasi BookTok . Di Italia, BookTok disebut telah “mengubah membaca dari kewajiban menjadi kesenangan murni” .

Kedua, menciptakan komunitas. BookTok memunculkan ekosistem literasi digital yang lebih terbuka dan partisipatif . Komunitas ini bahkan bertemu secara fisik. Di Italia, ada proyek “Viaggiare coi libri” yang mengadakan reading party, picnic literer, hingga retret membaca akhir pekan .

Ketiga, membangun koneksi antara penulis dan pembaca. Penulis baru bisa membangun audiens lewat BookTok. Penulis yang sudah mapan bisa berinteraksi langsung dengan pembaca .

Keempat, buku fisik kembali relevan. Di era digital, justru generasi muda yang kembali ke buku fisik. “I giovani cercano di scollegarsi, condividere, sottolineare, portare il loro libro a farsi firmare. Questo non te lo dà un formato digitale” (Anak muda mencari cara untuk terputus, berbagi, menandai, membawa buku mereka untuk ditandatangani. Itu nggak bisa didapat dari format digital) .

Studi Kasus: Tiga Sisi Pembaca BookTok

Studi Kasus 1: Si Dina, “FOMO Reader”

Dina (24 tahun) punya rak buku penuh. Tapi dia ngaku belum baca setengahnya. “Gue beli karena lagi viral di TikTok, Bang. Waktu itu semua orang pada bahas. Tapi pas sampe rumah, udah muncul tren baru lagi. Jadinya numpuk.”

Dina sadar ini masalah. “Gue baca karena pengen ikut obrolan, bukan karena pengen baca. Kalo udah selesai baca, seringnya lupa juga isinya. Yang penting gue bisa bilang ‘aku udah baca’ pas ada yang ngebahas.”

Ini yang disebut Gramedia sebagai “keputusan membaca yang didasari rasa penasaran sesaat atau fear of missing out” .

Studi Kasus 2: Si Budi, “Deep Reader”

Budi (27 tahun) sebaliknya. Dia punya prinsip: baca karena suka, bukan karena tren. “Gue punya list bacaan sendiri. Kalo ada buku viral, gue cek dulu sinopsisnya. Kalo emang menarik, baru gue beli. Kalo nggak, ya udah.”

Budi juga aktif di komunitas baca offline. “Di komunitas, kita diskusi lebih dalam. Bukan cuma ‘bagus’ atau ‘jelek’, tapi kenapa, apa pesannya, gimana teknik nulisnya. Itu yang nggak bisa didapat dari konten 30 detik.”

Menurutnya, BookTok oke buat pintu masuk, tapi jangan berhenti di situ. “Gue nemu banyak buku bagus dari BookTok. Tapi setelah itu, gue cari review panjang, baca analisis, kadang baca dua kali. Biar dapet esensinya.”

Studi Kasus 3: Si Caca, “Book Collector”

Caca (22 tahun) punya 50 buku dengan edisi khusus. Tapi dia ngaku lebih banyak koleksi daripada baca. “Gue suka ngoleksi edisi sprayed edges, hidden cover, signed copy. Kadang beli dua: satu buat dibaca, satu buat koleksi.”

Apakah ini masih disebut membaca? Caca agak defensif. “Tapi dari koleksi ini, gue jadi lebih tertarik baca. Dulu gue nggak suka baca, sekarang minimal gue baca 5 buku setahun. Itu udah kemajuan.”

Data dari Kosta Rika mendukung ini: “El lector se motiva más a leer cuando tiene en sus manos una edición especial” (Pembaca lebih termotivasi membaca ketika punya edisi khusus) .

Common Mistakes yang Sering Dilakuin

1. Beli Buku Karena Viral, Lupa Cek Kecocokan

Banyak orang beli buku cuma karena liat di FYP, tanpa mikir: ini genre yang gue suka nggak? Bahasanya gue nikmatin nggak? Akhirnya buku numpuk nggak kebaca.

Actionable tip: Kalo lihat rekomendasi viral, simpan dulu di wishlist. Baca sinopsis, cek review panjang, pinjem dulu dari perpustakaan atau temen. Kalo cocok, baru beli.

2. Ngejar Kuantitas, Lupa Kualitas

Ada tantangan baca 100 buku setahun. Tapi kalo bacanya cuma selintas, lupa isinya, buat apa? Lebih baik baca 20 buku dengan pemahaman dalam daripada 100 buku cuma buat statistik.

Actionable tip: Setelah selesai baca, tulis review pendek buat diri sendiri. Apa pesan utamanya? Adegan mana yang paling berkesan? Kalo nggak bisa jawab, mungkin lo perlu baca ulang.

3. Lupa Bahwa Membaca Itu Personal

BookTok bisa kasih rekomendasi, tapi pada akhirnya selera baca itu personal. Buku yang bikin orang lain nangis, belum tentu nyentuh lo. Buku yang dianggap “masterpiece” bisa jadi ngebosenin buat lo.

Actionable tip: Percaya sama insting lo. Kalo nggak suka buku yang lagi viral, ya udah. Nggak perlu maksa. Ada jutaan buku lain di luar sana.

4. Terjebak di Satu Genre

Romantasy emang lagi naik daun. Tapi kalo lo cuma baca romantasy, lo kehilangan banyak pengalaman membaca dari genre lain. Sastra klasik, nonfiksi, thriller psikologis, semuanya punya keunikan sendiri.

Actionable tip: Sesekali coba baca genre yang nggak biasa lo baca. Minta rekomendasi dari temen yang punya selera beda. Perluas horizon.

5. Lupa Bahwa Membaca Butuh Waktu dan Ruang

Di era konten 30 detik, kita lupa bahwa membaca butuh waktu. Butuh konsentrasi. Butuh ruang untuk merenung. Kalo lo baca sambil scroll TikTok, sambil chat, sambil nonton TV, yang dapet cuma fragmen, bukan pemahaman.

Actionable tip: Luangkan waktu khusus buat baca. Matikan notifikasi. Cari tempat tenang. Nikmati prosesnya, bukan cuma hasilnya.

Practical Tips: Gimana Cara Jadi Pembaca Bijak di Era BookTok?

1. Jadikan BookTok sebagai Pintu Masuk, Bukan Tujuan

BookTok bagus buat nemuin buku-buku baru. Tapi jangan berhenti di situ. Setelah dapet rekomendasi, lakukan riset sendiri. Baca review panjang. Cek profil penulis. Kalo perlu, baca cuplikan dulu.

2. Temukan “Reading Pace” Lo

Nggak semua orang harus baca 50 buku setahun. Kalo lo cuma bisa baca 10 buku dengan pemahaman baik, itu udah bagus. Yang penting konsisten, bukan kuantitas.

3. Gabung Komunitas Baca Offline

BookTok seru, tapi diskusi langsung lebih dalam. Cari klub buku di kota lo, atau bikin sendiri. Di Italia, pembaca BookTok bahkan bikin retret membaca akhir pekan . Itu ide bagus.

4. Jangan Malu Sama “TBR” yang Numpuk

To-Be-Read (TBR) yang numpuk itu bukan dosa. Itu bukti bahwa lo punya banyak pilihan. Nikmati proses memilih, nikmati proses membaca. Nggak perlu buru-buru.

5. Apresiasi Buku Fisik, Tapi Jangan Jadi Kolektor Buta

Edisi khusus itu cantik, tapi inget: fungsi utama buku adalah dibaca, bukan cuma dipajang. Kalo lo beli edisi khusus, pastikan lo baca juga. Jangan sampai jadi kolektor yang nggak pernah baca.

6. Tulis, Bukan Cuma Baca

Setelah baca, tulis review. Nggak perlu panjang, cukup catatan pribadi. Ini membantu lo mengingat dan memproses apa yang udah dibaca. Plus, tulisan lo bisa membantu pembaca lain.

Kesimpulan: Membaca di Era FOMO

Fenomena BookTok 2026 ngasih kita gambaran yang kompleks.

Di satu sisi, ini adalah kebangkitan literasi yang nggak terduga. Generasi yang katanya males baca, justru bikin komunitas baca terbesar di dunia maya. Mereka rela antre, rela bayar mahal, rela diskusi berjam-jam—semua demi buku.

Data dari BBC nunjukkin 74 juta postingan BookTok . Data dari Libby nunjukkin kenaikan 744% peminjaman setelah adaptasi . Data dari Italia nunjukkin toko buku mengubah tata letak mereka mengikuti logika BookTok . Ini bukan fenomena kecil.

Di sisi lain, ini juga ancaman bagi literasi dalam. FOMO bikin orang beli buku karena tren, bukan karena suka. Konten 30 detik bikin orang kehilangan kemampuan membaca dalam dan merenung. Perasaan cemas ketinggalan informasi bikin kita susah fokus .

Pertanyaannya: apakah kita membaca karena ingin memahami, atau karena ingin dianggap paham?

Jawabannya mungkin ada di tengah. BookTok bisa jadi pintu masuk yang luar biasa. Tapi setelah pintu terbuka, lo harus masuk sendiri. Menjelajah sendiri. Menemukan ruang dan waktu untuk benar-benar meresapi apa yang lo baca.

Seperti yang ditulis Gramedia: “Platform boleh berubah, format boleh berbeda, tetapi semangat untuk membaca dan berbagi cerita tetap menjadi inti yang tak tergantikan” .

Pada akhirnya, BookTok hanyalah alat. Yang menentukan adalah lo—pembacanya. Apakah lo akan jadi pembaca yang sekadar ikut arus, atau pembaca yang mampu memilih dengan sadar, merenung dengan dalam, dan berbagi dengan bermakna?

Jadi, lo baca karena suka atau karena FOMO?

Anda mungkin juga suka...